Slideshow

WALIKOTA JADI PEMBICARA DI FORUM MALAYSIA

KabarBeta.com, Ambon–Walikota Ambon, Richard Louhenapessy menjadi salah satu pembicara di forum internasional Side Event World Urban Forum 9 di Kuala Lumpur-Malaysia, Sabtu (10/2/18) tadi. Kegiatain ini diselenggarakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyart (PUPR) melalui Dirjen Cipta Karya. Selain Walikota Ambon juga Walikota  Bogor, Bima Arya juga ikut di undang dalam kegiatan dimaksud.  Tema kegiatan ini adalah The Power of Community Transformation and Movement for Stum Upgrading Program in Indonesia.

 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Ambon, Enricco Mattitaputty yaang hadir mendampingi walikota Ambon,  mengungkapkan kegiatan ini dalam rangka menyampaikan pengalaman dalam merencanakan dan melaksanakan penanganan kawasan pemukiman kumuh dengan membangun platform kolaboratif melalui peningkatan peran pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

“Acara ini bertujuan untuk menunjukan,  bagaimana proses pemberdayaan masyarakat untuk program peningkatan kumuh dan juga bagaimana proses membangun masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan melalui pembentukan lembaga pemberdayaan masyarakat dan revitalisasi peran institusi itu sendiri”urai Matitaputty.

Menurutnya,  pemberdayaan masyarakat dalam program peningkatan pemukiman kumuh melalui kementrian PUPR  menerapkan inisiatif new urban agenda dan mandate SDG sasaran 11: membuat kota-kota  inklusi, aman, tangguh dan berkelanjutan.

 

Gerakan ini adalah bagian dari pembangunan yang menerapkan prinsip no one left behind sebagai salah satu implementasi new urban agenda.

Acara ini sendiri, dikemas mulai dari tukar pengalaman, dan dilanjutkan dengan sesi pleno, sesi tanya jawab dan kesempatan untuk menjalin hubungan diantara sesama peserta,  dan diakhiri dengan refleksi bagaimana pengalaman dan menginformasikan pelaksnaaan new urban agenda dan SGD 11 kepada publik.

Walikota Ambon sendiri membawakan materi tentang proses pembangunan kota Ambon yang menggunakan sistim pembangunan button up  planning, dimana pola perencanaan ini merupakan pola perencanaan partisipatif yakni masyarakat terlibat mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan.

Dalam paparannya di forum itu, Louhenapesy sampaikan, di Ambon masyarakat tidak hanya menjadi objek tetapi juga menjadi subjek pembangunan, sehingga masyarakat menjadi masyarakat yang madani yang menjadikan kota tersebut menjadi kota yang kuat dan berkelanjutan.

Materi lain yang dibawakan juga yakni proses transformasi masyarakat dan gerakan-gerakan dalam pembangunan perkotaan, kearifan local dalam pembangunan perkotaan dan praktek terbaik pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat terurtama terkait dengan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Ambon. (K001)